Laman

Jumat, 28 April 2017

(cerita) TUGAS SAYA SELESAI

Sepanjang tahun 2016 merupakan tahun yang saya akui cukup berat bagi saya. Saya menjalankan 3 kewajiban saya sebagai seorang ibu, istri dan anak bagi kedua orang tua saya. Dimana di tahun ini, saya hamil kembali yang ke 4xnya. Hamil untuk anak ke 3 kami (2008 saya mengalami keguguran dikehamilan ke 2). Kehamilan yang penuh suka cita karena saya menjalani kodrat saya sebagai seorang isteri untuk memberikan keturunan lagi bagi suami saya. Kewajiban saya sebagai seorang ibu yang berjuang memberikan yang terbaik dan nyawa bagi anak ini. Terus terang kehamilan yang ke 4 ini cukup sulit. Kehamilan diatas usia 35 tahun, komplikasi persalinan dan section yang ke 3 buat saya. Hampir setiap minggu saya musti periksa kandungan ke dokter dan periksa laboratorium. Dari pemeriksaan jantung, darah, urin, glucose, ginjal sampai lever semua saya jalanin. 11 pills sehari (6 diantaranya adalah vitamin). Kemudian saya harus memenuhi janji kepada kedua orang tua saya untuk menyelesaikan studi dan buku saya yang sempat tertunda. 


Meski sesungguhnya saya merasa amat sangat letih dan berat apalagi di penghujung tahun, suami saya memutuskan untuk menambah bangunan disamping rumah kami, praktis tugas saya semakin berat. Saya musti ngawasi tukang kerja. Berisik dan banyak debu. Kalau dipikir dengan akal sehat, rasanya tidak mungkin saya bisa melewati masa-masa berat itu dengan baik. Tapi entah kenapa, kehamilan terakhir ini (saya bilang terakhir, karena pabriknya sudah ditutup sama dokter kandungan, hehehehe), saya merasa jauh lebih sabar, sangat sabar, sungguh kesabaran yang tanpa batas saya rasakan saat itu. Saya tahu, Allah memberikan ujian yang cukup berat bagi saya, tapi tekad dan doa saya sudah mantap. 


Alhamdulillah saya perjuangkan hingga ke titik nadir, karena saya percaya bahwa semua hasil dan keberhasilan hanya bisa dicapai dengan keteguhan hati dan kekuatan doa. Anak terakhir kami juga merupakan anak yang kuat. Bayangkan setiap pagi jam 7 (kadang jam 6 pagi) saya sudah duduk di depan laptop, mengerjakan pelan-pelan tesis saya, meneliti semua hasil penelitian saya sendirian tanpa bantuan, mempelajari statistik dari nol (karena terus terang, saya sudah lupa sejak saya lulus sarjana saya belasan tahun lalu), saya baca puluhan jurnal ilmiah dan puluhan buku. Hampir setiap hari juga saya belajar hingga pukul 12 malam. Kalau perut saya sakit, saya tahu kalau bayi saya kelelahan ikut belajar di dalam perut saya, ikut mikir juga, hehehe... Saya istirahat sejenak sambil ngelus-ngelus perut. Saya selalu memberikan influence positif yang terus saya ucapkan kepadanya, "Kita sama-sama berjuang, nak. Mama berjuang demi masa depan kita, mama berjuang menjaga kamu untuk tetap hidup di rahim mama, tapi kamu juga harus berjuang membantu mama menyelesaikan studi mama dan berjuang untuk bisa hidup panjang. Kita sama-sama berdoa kepada Allah demi keselamatan kita berdua". 

Akhirnya 9 tahap ujian itu berhasil saya lalui dimana 5 tahap terakhir saya lakukan hanya 2 minggu setelah operasi sectio. Memang sectio ke 3xnya rasanya lebih sakit luar biasa, tapi suatu keajaiban juga, rasa sakitnya hanya seminggu. Jauh lebih cepat justru dari kedua kakaknya. Saya percaya bahwa Allah Maha besar, Dia pasti akan mempermudah semua urusan saya asal saya tabah dan tetap yakin. 

Saya akui bahwa saya adalah orang yang berusaha memegang komitmen apapun yang sudah menjadi keputusan saya. Jadi saya harus tuntaskan apa yang telah saya ambil. Butuh perjuangan keras memang untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Saya menyelesaikan kuliah ini 3 tahun. Ketika masuk kuliah saya baru 40 melahirkan anak ke 2, dan menjelang lulus saya melahirkan anak ke 3. Ibu saya selalu bertanya apakah saya kuat apalagi ditambah saya sedang bangun rumah. Saya jawab, "Insha Allah karena Allah tahu bahwa saya pasti bisa melewati ini semua. Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kapasitas umatNya".Setiap anak pasti membawa rezekinya masing-masing, dan Tuhan pasti memudahkan jalan asal kami tawakal dan terus berusaha. 

Terima kasih ya, terutama buat suami tercinta yang embul-embul Babah Andi, yang ga pernah nyerah buat support istrinya terus, apalagi saat down kehilangan semangat ngerjai tesisnya. Hehehe... mencintai saya dengan seluruh jiwa raganya dan saya akui itu. Pastinya doa ibu dan ayah saya sepanjang masa, doa dari ibu pengasuh saya, Umi yang selalu ada sejak saya dilahirkan sampai saya memiliki 3 anak, juga pastinya dukungan 3 anak saya. Terima kasih Alla.... 

Oh ya, tesis saya telah saya terbitkan dalam bentuk buku. Tentang marital satisfaction, buku yang membahas pernikahaan dari sudut psikologi sosial dan dalam perspektif psikologi Islam. Ini buku ke 2 saya. Buku pertama saya buat dengan ayah saya. Semoga bisa menemukan di toko buku ya...

Marital Satisfaction Book (Andi-Math's collection pics)

Tidak ada komentar: