Laman

Jumat, 12 Agustus 2016

(inspirasi) KEEP STRONG AND STRUGGLE

by : Mathilda Soleh

"Membangun rumah tangga memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun semua harus tetap diupayakan sebagai wujud keimanan kepada Allah SWT. Betapapun sulitnya perjuangan untuk mempertahankan pernikahan tetapi harus tetap berikhtiar agar rumah tangga yang dibangun menjadi rumah tangga yang penuh rasa cinta dan saling memaafkan serta tetap saling berinteropeksi diri."

August 12, 2016 

Wedding 2007 (Andi-Math's collection pics)
 

Selasa, 09 Agustus 2016

(cerita) MENGAPA BARU KULIAH SEKARANG ?

by : Mathilda Soleh

Ketika hari sudah menunjukkan pukul 22, saya tiba - tiba dikejutkan dengan buzz chatting dari teman kuliah saya. Dia menanyakan tentang progres penyelesaian tesis saya dan meminta pendapat saya bagaimana menumbuhkan motivasi dari diri sendiri untuk memulai menulis.

Saya sebenarnya tidak ingin memberikan motivasi apa - apa kepada teman saya itu, karena saya tahu bahwa ia pasti sudah mendengar begitu banyak motivasi dari puluhan orang lain sebelum saya. Jadi kalimat motivasi dari saya, pasti akan terdengar sama dengan lainnya. Saya hanya mengatakan bahwa encourage dari keluarga dan teman, sifatnya hanya support dari eksternal. Namun yang terberat adalah bagaimana kita menumbuhkan support dari internal diri sendiri. Jadi sebenarnya tidak ada yang lebih hebat selain motivasi dari dalam diri sendir.

Jawaban dia, "ya, ibu benar. Memang cuma diri saya yang bisa memotivasi diri sendiri untuk memulai nulis disertasi saya".

Kemudian dia bertanya lagi, "Sebenarnya moment yang bagaimana seseorang bisa memotivasi diri sendirinya ?"

Saya katakan, "Ketika ia sudah dihadapkan pada kondisi yang terjepit atau ketika ia merasa dalam keadaan terdzolimin sehingga ia harus bangkit kembali. Itu cambuk yang "termahal" karena di saat itulah dirinya benar-benar bersemangat lagi untuk meng-create sesuatu yang lebih berarti bagi hidupnya"

Lalu teman saya berkata, "wah benar sekali bu. Seperti kondisi ibu saat ini ?"

Hahahaha, saya tertawa. Bisa dibilang benar juga. Saya harus lulus sebelum saya melahirkan anak ke 3 kami. Ini extra semester karena saya ambil cuti kuliah. Saat itu saya mengalami kondisi dimana saya merasa "letih" dan saya membutuhkan waktu "me time" sesaat.

Namun pertanyaan terakhir darinya membuat saya sedikit kaget"kalau gitu, kenapa dulu ibu ga kuliah aja dari dulu SEBELUM MENIKAH ?"

wow.... (menurut saya ini a little bit silly question)

Saya katakan bahwa kalau saya mengikuti ego, yang ada saya jadi perawan tua sibuk memikirkan ambisi pribadi. Siapa sih yang tidak ingin menjadi Doktor diusia sebelum 30. Saya rasa bagi setiap orang yang haus akan ilmu dan berambisi tinggi, pasti ingin semua. Tetapi Tuhan menggariskan jalan yang sedikit berbeda buat saya daripada orang lain yang beruntung menyelesaikan Doktornya sebelum usia 30. 

Buat saya, ambisi itu perlu, namun harus tetap pada track yang seharusnya. Disitulah letak perbedaan mencolok kalau berbicara tentang kodrat antara laki - laki dan perempuan. Pertama, saya adalah perempuan, yang mana saya harus menikah diusia masa subur perempuan untuk melahirkan. Jadi tidak lama saya menyelesaikan sarjana, saya menikah dan langsung hamil di usia 26 tahun.Kedua, sebagai istri setelah menikah, saya harus mengikuti dulu perjalanan karir suami saya ke Qatar, dan kami memutuskan bersama - sama mencari uang untuk melunasi rumah. Ketiga, karena saya yakin, moment yang terbaik buat saya kuliah lagi, ya sekarang ini.

Kalau seandainya Tuhan memberikan semua keinginan saya ketika saya masih di usia 20an, mungkin saya saja saya menjadi makhlukNya yang serakah karena mendapatkan semuanya dengan mudah. Tetapi karena Tuhan ingin memberikan "sesuatu" bagi saya untuk saya terus belajar bersabar, Tuhan mewujudkan semua keinginan saya satu - persatu, bertahap namun pasti.

Saya bahagia, diusia pertengahan 30an (lebih dikit sih, hehehe), saya lulus dengan gelar master saya, memiliki suami yang cakap (menurut saya), dengan 3 anak yang lucu - lucu, tempat tinggal, passion pekerjaan yang menyenangkan, dan lainnya. Sungguh, hidup itu memang seharusnya bertahap agar kita tetap belajar bahwa segala sesuatunya kita harus berjuang dengan CARA YANG BENAR dan halal. Belajar bahwa tidak selamanya apa diinginkan sekejap ada depan mata, tapi diperlukan KERJA KERAS dan DOA untuk meraihnya.

Jadi kalau ditanya sekali lagi, mengapa saya baru kuliah sekarang ? Jawabnya karena "saatnya" ya sekarang ini, bukan 10 tahun yang lalu. Allah Maha Tahu yang Terbaik buat saya.... Yang terpenting adalah jangan pernah menyerah. Bangku sekolah itu tidak pernah tertutup buat siapa saja yang memang ingin berjihad mencari ilmu sebanyak - banyaknya, kapan saja dan dimana saja.

-Good evening, good people-
Tuesday, 09/08/2016, 11.36

CherryBellO (Andi-Math's collection pics)

Jumat, 04 Maret 2016

(cerita) JANGAN BERDOA MEMINTA KEMATIAN

by : Mathilda Soleh

Dalam suatu pengajian yang saya datangi, ada tausiyah yang terus melekat dalam pikiran saya, yaitu Jangan pernah berdoa untuk meminta mati kepada Tuhan ketika kita sedang terlilit ujian musibah yang sangat berat sekalipun. Karena ketika doa itu dikabulkan, lalu apakah bekal kita sudah cukup untuk dibawa ke kematian itu ? Apalagi coba - coba bunuh diri, celaka 12. 

Meminta mati bukan berarti masalah hidup ini kelar, justru ada pesoalan baru yang kita hadapi di alam kubur yaitu Dua Malaikat datang saat langkah ketujuh dari orang terakhir yang meninggalkan kuburan. Malaikat Munkar dan Nakir yang datang dengan 3 pertanyaan. Kita sendirian pula di alam kubur. Memang cuma 3 pertanyaan, tetapi lidah kita belum tentu lancar menjawabnya.

Lalu bagaimana sikap kita ketika ujian atau cobaan itu sedang menimpa kita (misalnya saja sakit yang berat sekali), seeloknya kita berdoa, "Ya Allah bila memang ujian/cobaan ini kuat untuk aku pikul, maka berikan lah aku usia panjang, kelapangan dada dan kesabaran untuk aku bisa melaluinya . Namun bila ternyata yang TERBAIK bagi ku adalah kematian maka matikan aku dalam keadaan khusnul khotimah....

Namun sebelumnya kita harus terus berikhtiar, iklas dan bersabar, karena Tuhan tidak akan memberikan ujian atau cobaan diluar dari kemampuan umat-Nya.... Insha Allah...

Corniche Beach, Doha Qatar (Andi-Math's collection pics)

(cerita) PERNIKAHAN ADALAH KOMITMEN EKSKLUSIF

by : Mathilda Soleh 

Hari ini rumah saya kedatangan tamu istimewa. Tetangga saya. Sebut saja "Ibu S". Dulu sekitar tahun 2008 ketika kami baru pindah ke rumah ini (sebelum kami menetap di Qatar), saya suka ke rumahnya untuk treatment kecantikan karena Ibu S ini membuka salon di rumahnya selepas kematian suaminya yang mendadak di tahun 2003. Ketika kami menetapi rumah ini kembali di tahun 2014, saya lama tidak melihat ibu S hingga hari ini saya baru tahu bila beliau selama 2 tahun mengontrak di Rawamangun menemanin anak bungsunya agar lebih dekat dengan kampusnya dan bisa menyelesaikan kuliahnya yang agak terseok - seok saat itu. 3 jam ibu S ini bertandang ke rumah saya dan menceritakan kisah hidupnya kepada saya.

Dulu beliau adalah perawat dan kemudian mengambil kuliah kebidanan. Namun 5 bulan mau lulus, beliau berhenti dari kebidanannya itu atas permintaan Keluarga Suaminya. Ya beliau bercerita bahwa adat di suaminya masih sangat kental yang memandang bahwa seorang istri tidak boleh bekerja. Ibu S mengikuti keinginan keluarga suami dan belajar berdagang dengan membuka toko sembako di rumahnya. Tidak bertahan lama, lalu beliau menutup toko itu. Singkat cerita, kehidupan rumah tangganya tentram dan berkecukupan, hingga suatu hari suaminya terkena serangan jantung dan meninggal seketika di usia 51. Saat itu usia ibu S masih cukup muda 46 tahun, ditinggal suami tanpa memiliki pekerjaan dengan 4 anak yang masih kecil - kecil. Tapi hidup berjalan terus dan dia harus bangkit. Akhirnya beliau mengambil kursus salon, dan membuka salon di rumahnya. Ibu S bertahan tidak menikah lagi meski banyak lelaki yang menyukainya.

Cobaan datang kembali di tahun 2013 ketika ibu S sakit parah. Paru paru kanan atasnya sobek. Beliau tetap bertahan berobat sana sini dengan biaya seadanya. Ibu S terus berjuang menyekolahkan ke 4 anaknya menjadi sarjana semua dengan tekanan penyakit yang tidak ringan pula. 3 anaknya sekarang sudah bekerja di kementerian, dan yang bungsu akan di wisuda sebentar lagi. Anak pertamanya menggadaikan SK pengangkatan nya demi menyekolahkan adik bungsunya. Uang pensiun alm suaminya pun sudah ibu S gadaikan ke bank demi bisa menyekolahkan ke 4 anaknya. Kini Ibu S hidup dari ke 3 anaknya yang telah bekerja itu.

Saya bertanya, kenapa beliau tidak ingin menikah lagi padahal saat itu masih muda ? Ibu ini menjawab, "karena saya cinta mati dengan alm suami saya, dan saya ingin berkumpul lagi dengan alm suami saya kelak. Biarlah saya begini, asal anak anak sukses dan bisa selalu mencintai saya. Kalau saya menikah lagi, belum tentu anak anak saya bisa menerima bapak baru. Saya pisah karena maut bukan apa - apa. Buat saya, suami saya tidak akan pernah tergantikan. Terus terang saya habis-habisan untuk menyekolahkan anak saya. Jungkir balik saya lakukan sampai saya sakit seperti ini pun, saya tetap bertahan....".
Saya ingin menangis mendengar kisahnya. Tapi saya tahan. Sudah 14 tahun ibu S ini menjanda, dan beliau tetap bertahan meski hidup nya sangat getir sekali.

Note :
Nyatanya Tuhan memberikan saya pembelajaran hari ini, bahwa hidup itu harus ada bekal. Kita tidak pernah tahu dengan apa yang terjadi hari ini. Jangan pongah dan jangan terlena dengan apa yang sudah kita nikmati hari ini karena hidup itu seperti roda yang berputar. Tuhan juga telah memberikan pembelajaran yang lain bahwa pernikahan itu bukan saja untuk pemenuhan materiil, psikologis dan seksual. Tetapi pernikahan itu adalah komitmen eksklusif yang bertanggung jawab untuk membesarkan anak - anak bersama dan juga untuk menjaga perasaan hati anak - anak ini bersama - sama juga....

-Medio Sore 4 Maret 2016-

Istanbul, Turki (Andi-Math's collection pics)

Sabtu, 23 Januari 2016

(cerita) REZEKI PADA HARI INI

By:  Mathilda Soleh 

Sabtu pagi,saya kedatangan tamu. Tetangga mengajak saya untuk turut menjenguk tetangga lain yang sedang musibah sakit. Akhirnya kami menjenguk di rumahnya. 

Ketika baru saja masuk rumah, tiba tiba saya kedatangan tamu lagi. Kali ini ibu RT dan seorang ibu lainnya. Setelah beramah tamah dan mengucapkan permintaan maaf karena tidak sempat menjenguk saya waktu di RS, mereka kemudian memberikan amplop. Isinya adalah urunan dari para tetangga. Saya takjub dan tidak menyangka, bersuka cita. Bukan soal jumlahnya tetapi atensi yang mereka wujudkan.Siapa sangka, beberapa hari yang lalu saya terbaring di RS, kemudian bersabar untuk harus rawat jalan setelahnya, dan setelahnya Tuhan memberikan saya rezeki berturut - turut. 

Dimulai dari hadiah yang diberikan oleh suami, kemudian bingkisan dari teman dan urunan dari para tetangga. Saya sama sekali tidak memandang berapa jumlah yang sudah mereka keluarkan untuk saya, namun saya melihat dari ketulusan hati mereka. Itu yang terpenting.
Saya percaya bahwa sedikit kebaikan yang kita berikan pada orang lain, akan menorehkan seribu doa dibalik itu. Mungkin ketika kita melakukan hal baik meski kecil saja effort yang dilakukannya, namun ternyata memberikan banyak dampak positif setelahnya. 

Kemudian saya terpikir, bagaimana kalau seandainya kita melakukan banyak hal yang melukai hati orang ?  Atau melukai hati saudara kita sendiri atau keluarga atau orang-orang disekeliling ini ? Jangankan perhatian, memikirkan mereka yang sudah melukai diri kita saja, rasanya malas. Setiap moment, selalu ada yang saya petik hikmahnya , baik atau buruk. 
Sekali lagi, terima kasih Tuhan dengan yang Kau berikan pada saya, dalam bentuk apapun juga, karena itu semua ada rizqi dari Engkau.....

Medio Januari 2016

(Andi-Math's collection pics)

Sabtu, 09 Januari 2016

(inspirasi) UNTUK SUAMI DAN ISTERI

NASEHAT KHUSUS UNTUK SUAMI 

Wahai para suami !
1. Apa yang memberatkanmu, wahai hamba Allah, untuk tersenyum di hadapan istrimu ketika masuk menemuinya, agar engkau memperoleh ganjaran dari Allah Ta'ala ?
2. Apa yang membebanimu untuk bermuka cerah ketika melihat istri dan anak-anakmu, padahal engkau akan mendapatkan pahala karenanya ?
3. Apa sulitnya apabila engkau masuk ke rumah sambil mengucapkan salam secara sempurna: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,” agar engkau memperoleh tiga puluh kebaikan ?
4. Apakah yang menyusahkanmu jika engkau berkata kepada istrimu dengan perkataan yang baik, sehingga dia meridhaimu, sekalipun dalam perkataanmu tersebut agak sedikit dipaksakan ?
5. Apakah menyusahkanmu, wahai hamba Allah, jika engkau berdo’a: “Ya Allah. Perbaikilah istriku, dan curahkan keberkahan padanya ?”
6. Tahukah engkau bahwa ucapan yang lembut merupakan sedekah ?
7. Apa yang memberatkanmu untuk membawa hadiah (oleh-oleh) untuk istri dan anak-anakmu ketika engkau pulang dari safar ?
8. Luangkan waktumu untuk menemani istrimu membaca al-Qur-an, membaca buku-buku yang bermanfaat, dan mendatangi majlis ta’lim (majelis ilmu) yang mengajarkan al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman para Sahabat.
9. Tahukah engkau wahai hamba Allah, bahwa jima’ (ber­setubuh) akan mendatangkan ganjaran dari Allah ? Bahkan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :
(( مِنْ أَمَاثِلِ أَعْمَالِكُمْ إِتْيَانُ الْحَلَالِ – يَعْنِى النِّسَاءَ. ))
Di antara amal perbuatan kalian yang paling utama adalah mendatangi (bersetubuh) yang halal, yaitu dengan istri-istri kalian.”
[Hadits shahih: diriwayatkan oleh Ahmad (IV/231), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (II/26, no. 1391), dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir (XXII, no. 848). Lihat: Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 441)]

NASIHAT KHUSUS UNTUK ISTRI 

Wahai para istri !
1. Apakah yang menyulitkanmu jika engkau menemui suamimu ketika dia masuk ke rumahmu dengan wajah yang cerah sambil tersenyum manis ?
2. Beratkah bagimu untuk menghilangkan debu di wajah, kepala, dan pakaian suamimu kemudian engkau men­ciumnya?
3. Berhiaslah untuk suamimu dan raihlah pahala di sisi Allah Ta'ala. Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, gunakanlah wangi-wangian. Berpakaianlah dengan busana terindah yang kau miliki untuk menyambut kedatangan suamimu. Ingat, janganlah sekali-kali engkau bermuka muram dan cemberut di hadapannya.
4.  Janganlah engkau melembutkan suaramu kepada laki-laki yang bukan mahram sehingga terfitnahlah orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, sehingga ia berprasangka buruk kepadamu.
5. Jadilah seorang istri yang memiliki sifat lapang dada, tenang, dan selalu ingat kepada Allah di dalam segala keadaan.
6. Ringankanlah segala beban suami, baik berupa musibah, luka, dan kesedihan.
7.  Didiklah anak-anakmu dengan baik, penuhilah rumahmu dengan tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil; serta perbanyaklah membaca al-Qur-an, khususnya surat Al-Baqarah, karena surat tersebut dapat mengusir syaitan !
8. Bangunkanlah suamimu untuk mengerjakan shalat malam, anjurkanlah dia untuk berpuasa sunnah dan ingatkanlah dia kembali tentang keutamaan berinfak; serta janganlah melarangnya untuk berbuat baik kepada orang tua dan menjaga tali silaturahim.
9.  Perbanyaklah istighfar untuk dirimu, suamimu, orang tuamu, dan semua kaum Muslimin; serta berdo’alah selalu agar diberikan keturunan yang shalih dan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat; dan ketahuilah bahwa Rabbmu Maha Mendengar do’a. Sebagaimana firman Allah Ta'ala :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
 “Dan Rabb kalian berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian ....” (QS. Al-Mu’min [40]: 60)
10.  Bersihkanlah rumahmu dari segala gambar-gambar makhluk hidup, alat-alat yang melalaikan, dan segala sesuatu yang dapat merusak.
Diringkas dari Fiqhut Ta’aamul Baina az-Zaujaini wa Qabasat min Baitin Nubuwwah (hlm. 107-112) karya Abu ‘Abdillah Mushthafa bin al-‘Adawi, cet I/Darul Qasim, dengan sedikit tambahan dari penulis.

Sumber :
Panduan Keluarga Sakinah hlm 229 - 233 Cet. VIII / Jan 2012.
Penulis Yazid Abdul Qadir Jawas. Penerbit PUSTAKA IMAM ASY-SYAFI'I Jakarta.

Cincinnati Museum, USA (Andi-Math's collection pics)

Kamis, 07 Januari 2016

(cerita) GROWING OLD WITH YOU

by : Mathilda Soleh

January 7, 2007 - January 7, 2017

Menemani kamu selama 15 tahun dengan jatuh bangun didalamnya. 5 tahun jadi teman dekat, putus nyambung kayak kacang goreng. Menunggu sampai saya lulus sarjana, ngajarin saya statistik, bantuin ngerjain paper - paper kuliah dan ngasih laptop waktu saya, dan bantui skripsi juga. Nolongi saya berkali-kali ketika terkapar di kos karena lelahnya kerja di tanjung priok, kuliah di depok, dan les di kalibata. 

Lalu 2007 menikah. 2013 kamu meminta saya berhenti bekerja ketika kamu tahu saya mengandung Maira namun dengan senang hati kamu mengijinkan saya kuliah kembali hanya 40 hari setelah melahirkan Maira. Meski kemudian kamu ga bantuin saya lagi ngerjain paper-paper kuliah seperti dulu karena kamu semakin sibuk tapi kamu memberikan ijin ketika cuti kuliah . Saya sangat lelah sejak kepindahan kita dari Qatar berpindah terus hingga akhirnya kembali menetap dirumah ini. 

Tidak mudah memang menjadi bagian dari hidupmu. Tetapi kamu berhasil menjadikan saya, mandiri, sangat kuat dan tidak cengeng. Kamu membebaskan saya untuk meraih apapun yang saya mau. Kamu tidak mengekang aktifitas saya. Kamu justru memberikan dukungan selama tugas saya sebagai ibu dan istri tetap pada path-nya. Jodoh sudah diatur, karena mungkin orang yang seperti kamulah yang saya butuhkan. Pernikahan yang kita jalanin memang tidak selamanya mudah, selalu ada kerikil - kerikil kecil, tetapi memang tidak ada pernikahan yang sempurna. Tapi kita memang kompak berkomitmen buat terus berusaha memperbaiki diri setiap harinya. Banyak hal positif yang kamu ajarkan pada saya, ada begitu banyak kenangan indah yang dilalui bersama. Saya tidak pungkiri itu, dan anak - anak kita adalah buktinya....

Wefie (Andi-Math's collection pics)