by : Mathilda Soleh
Hari ini rumah saya kedatangan tamu istimewa. Tetangga saya. Sebut saja "Ibu S". Dulu sekitar tahun 2008 ketika kami baru pindah ke rumah ini (sebelum kami menetap di Qatar), saya suka ke rumahnya untuk treatment kecantikan karena Ibu S ini membuka salon di rumahnya selepas kematian suaminya yang mendadak di tahun 2003. Ketika kami menetapi rumah ini kembali di tahun 2014, saya lama tidak melihat ibu S hingga hari ini saya baru tahu bila beliau selama 2 tahun mengontrak di Rawamangun menemanin anak bungsunya agar lebih dekat dengan kampusnya dan bisa menyelesaikan kuliahnya yang agak terseok - seok saat itu. 3 jam ibu S ini bertandang ke rumah saya dan menceritakan kisah hidupnya kepada saya.
Dulu beliau adalah perawat dan kemudian mengambil kuliah kebidanan. Namun 5 bulan mau lulus, beliau berhenti dari kebidanannya itu atas permintaan Keluarga Suaminya. Ya beliau bercerita bahwa adat di suaminya masih sangat kental yang memandang bahwa seorang istri tidak boleh bekerja. Ibu S mengikuti keinginan keluarga suami dan belajar berdagang dengan membuka toko sembako di rumahnya. Tidak bertahan lama, lalu beliau menutup toko itu. Singkat cerita, kehidupan rumah tangganya tentram dan berkecukupan, hingga suatu hari suaminya terkena serangan jantung dan meninggal seketika di usia 51. Saat itu usia ibu S masih cukup muda 46 tahun, ditinggal suami tanpa memiliki pekerjaan dengan 4 anak yang masih kecil - kecil. Tapi hidup berjalan terus dan dia harus bangkit. Akhirnya beliau mengambil kursus salon, dan membuka salon di rumahnya. Ibu S bertahan tidak menikah lagi meski banyak lelaki yang menyukainya.
Cobaan datang kembali di tahun 2013 ketika ibu S sakit parah. Paru paru kanan atasnya sobek. Beliau tetap bertahan berobat sana sini dengan biaya seadanya. Ibu S terus berjuang menyekolahkan ke 4 anaknya menjadi sarjana semua dengan tekanan penyakit yang tidak ringan pula. 3 anaknya sekarang sudah bekerja di kementerian, dan yang bungsu akan di wisuda sebentar lagi. Anak pertamanya menggadaikan SK pengangkatan nya demi menyekolahkan adik bungsunya. Uang pensiun alm suaminya pun sudah ibu S gadaikan ke bank demi bisa menyekolahkan ke 4 anaknya. Kini Ibu S hidup dari ke 3 anaknya yang telah bekerja itu.
Saya bertanya, kenapa beliau tidak ingin menikah lagi padahal saat itu masih muda ? Ibu ini menjawab, "karena saya cinta mati dengan alm suami saya, dan saya ingin berkumpul lagi dengan alm suami saya kelak. Biarlah saya begini, asal anak anak sukses dan bisa selalu mencintai saya. Kalau saya menikah lagi, belum tentu anak anak saya bisa menerima bapak baru. Saya pisah karena maut bukan apa - apa. Buat saya, suami saya tidak akan pernah tergantikan. Terus terang saya habis-habisan untuk menyekolahkan anak saya. Jungkir balik saya lakukan sampai saya sakit seperti ini pun, saya tetap bertahan....".
Saya ingin menangis mendengar kisahnya. Tapi saya tahan. Sudah 14 tahun ibu S ini menjanda, dan beliau tetap bertahan meski hidup nya sangat getir sekali.
Note :
Nyatanya Tuhan memberikan saya pembelajaran hari ini, bahwa hidup itu harus ada bekal. Kita tidak pernah tahu dengan apa yang terjadi hari ini. Jangan pongah dan jangan terlena dengan apa yang sudah kita nikmati hari ini karena hidup itu seperti roda yang berputar. Tuhan juga telah memberikan pembelajaran yang lain bahwa pernikahan itu bukan saja untuk pemenuhan materiil, psikologis dan seksual. Tetapi pernikahan itu adalah komitmen eksklusif yang bertanggung jawab untuk membesarkan anak - anak bersama dan juga untuk menjaga perasaan hati anak - anak ini bersama - sama juga....
-Medio Sore 4 Maret 2016-
Hari ini rumah saya kedatangan tamu istimewa. Tetangga saya. Sebut saja "Ibu S". Dulu sekitar tahun 2008 ketika kami baru pindah ke rumah ini (sebelum kami menetap di Qatar), saya suka ke rumahnya untuk treatment kecantikan karena Ibu S ini membuka salon di rumahnya selepas kematian suaminya yang mendadak di tahun 2003. Ketika kami menetapi rumah ini kembali di tahun 2014, saya lama tidak melihat ibu S hingga hari ini saya baru tahu bila beliau selama 2 tahun mengontrak di Rawamangun menemanin anak bungsunya agar lebih dekat dengan kampusnya dan bisa menyelesaikan kuliahnya yang agak terseok - seok saat itu. 3 jam ibu S ini bertandang ke rumah saya dan menceritakan kisah hidupnya kepada saya.
Dulu beliau adalah perawat dan kemudian mengambil kuliah kebidanan. Namun 5 bulan mau lulus, beliau berhenti dari kebidanannya itu atas permintaan Keluarga Suaminya. Ya beliau bercerita bahwa adat di suaminya masih sangat kental yang memandang bahwa seorang istri tidak boleh bekerja. Ibu S mengikuti keinginan keluarga suami dan belajar berdagang dengan membuka toko sembako di rumahnya. Tidak bertahan lama, lalu beliau menutup toko itu. Singkat cerita, kehidupan rumah tangganya tentram dan berkecukupan, hingga suatu hari suaminya terkena serangan jantung dan meninggal seketika di usia 51. Saat itu usia ibu S masih cukup muda 46 tahun, ditinggal suami tanpa memiliki pekerjaan dengan 4 anak yang masih kecil - kecil. Tapi hidup berjalan terus dan dia harus bangkit. Akhirnya beliau mengambil kursus salon, dan membuka salon di rumahnya. Ibu S bertahan tidak menikah lagi meski banyak lelaki yang menyukainya.
Cobaan datang kembali di tahun 2013 ketika ibu S sakit parah. Paru paru kanan atasnya sobek. Beliau tetap bertahan berobat sana sini dengan biaya seadanya. Ibu S terus berjuang menyekolahkan ke 4 anaknya menjadi sarjana semua dengan tekanan penyakit yang tidak ringan pula. 3 anaknya sekarang sudah bekerja di kementerian, dan yang bungsu akan di wisuda sebentar lagi. Anak pertamanya menggadaikan SK pengangkatan nya demi menyekolahkan adik bungsunya. Uang pensiun alm suaminya pun sudah ibu S gadaikan ke bank demi bisa menyekolahkan ke 4 anaknya. Kini Ibu S hidup dari ke 3 anaknya yang telah bekerja itu.
Saya bertanya, kenapa beliau tidak ingin menikah lagi padahal saat itu masih muda ? Ibu ini menjawab, "karena saya cinta mati dengan alm suami saya, dan saya ingin berkumpul lagi dengan alm suami saya kelak. Biarlah saya begini, asal anak anak sukses dan bisa selalu mencintai saya. Kalau saya menikah lagi, belum tentu anak anak saya bisa menerima bapak baru. Saya pisah karena maut bukan apa - apa. Buat saya, suami saya tidak akan pernah tergantikan. Terus terang saya habis-habisan untuk menyekolahkan anak saya. Jungkir balik saya lakukan sampai saya sakit seperti ini pun, saya tetap bertahan....".
Saya ingin menangis mendengar kisahnya. Tapi saya tahan. Sudah 14 tahun ibu S ini menjanda, dan beliau tetap bertahan meski hidup nya sangat getir sekali.
Note :
Nyatanya Tuhan memberikan saya pembelajaran hari ini, bahwa hidup itu harus ada bekal. Kita tidak pernah tahu dengan apa yang terjadi hari ini. Jangan pongah dan jangan terlena dengan apa yang sudah kita nikmati hari ini karena hidup itu seperti roda yang berputar. Tuhan juga telah memberikan pembelajaran yang lain bahwa pernikahan itu bukan saja untuk pemenuhan materiil, psikologis dan seksual. Tetapi pernikahan itu adalah komitmen eksklusif yang bertanggung jawab untuk membesarkan anak - anak bersama dan juga untuk menjaga perasaan hati anak - anak ini bersama - sama juga....
-Medio Sore 4 Maret 2016-
![]() |
| Istanbul, Turki (Andi-Math's collection pics) |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar