Laman

Rabu, 30 September 2015

(cognitionis) MARAH

By T. Safaria - 


Marah bisa berarti sehat, bahkan lebih sehat ketimbang memendam perasaan marah (anger in), keseringan menahan marah tidak dianjurkan karena justru beresiko terserang penyakit. Kunci untuk marah yang sehat adalah pengendalian marah (anger control) dan dengan porsi yang tidak berlebihan, tanpa itu semua marah justru menjadi bumerang, karena orang yang marahnya tidak terkendali, dan selalu mengungkapkan kemarahannya dengan meledak - ledak, meluap - luap (anger out), berpeluang terserang sakit 2 x lebih besar dibandingkan dengan yang dapat mengendalikan marahnya.

Ciri - ciri seseorang marah dapat dilihat pada wajah, pada lidah, pada anggota tubuh dan pada hati.

Cara paling efektif untuk mengelola kemarahan adalah dengan mengungkapkannya dan mengkomunikasikannya secara verbal dan asertif. Jika anda marah pada tindakan seseorang, cukup katakan bahwa anda marah dengan apa yang dilakukannya.


Sadur dari Manajemen Emosi

Al Mansoura St, Doha Qatar (Andi-Math's collection pics)

(cognitionis) WANITA DAN KNOWLEDGE

by : Rohana Kudus

Perputaran jaman tidak pernah membuat wanita menyamai laki - laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. 

Yang harus berubah adalah wanita harus mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.

(Pendiri Rohana School, Sumatera Barat)
- Saudara tiri Soetan Sjahril (PM I Indonesia)
- Bibi Chairil Anwar
- Sepupu H. Agus Salim


Mommy @Al Mansoura, Doha Qatar (Andi-Math's collection pics)

Jumat, 25 September 2015

(cognitionis) MONSTER YANG MEMANGSA DIRINYA SENDIRI

By : Danar Zohar dan Ian Marshal


Melalui dongeng - dongeng Ovid dalam mitologi Yunani, kita mendapat pelajaran tentang saudagar kayu yang kaya raya bernama Erisychthoon (baca : Er-is-ya-thon). Erisychton adalah orang rakus yang melulu berpikir tentang keuntungan. Tak ada yang sakral baginya. Namun, di tanah Erisychton terdapat sebuah pohon istimewa yang dicintai para dewa. Doa - doa kaum beriman diikatkan pada cabang - cabangnya yang amat banyak dan ruh - ruh suci menari disekitar batang pohonnya yang indah. Erisychton tak sedikit pun peduli pada keistimewaan ini. Dia melihat pohon itu serta menaksir banyaknya kayu yang bisa dihasilkannya, kemudian dia ambil kapak untuk menebangnya. Melawan semua protes yang dialamatkan kepadanya, dia terus menebang hingga pohon itu pun mengering dan tumbang. Lantas, semua kehidupan ilahiah yang mendiami pohon itu pun menghilang. Namun, salah satu dewa mengutuk Erisychton atas keserakahannya itu. Sejak hari itu, Erisychton didera rasa lapar yang tak pernah ada puasnya. Dia mulai dengan memakan semua persediaan makanannya, kemudian dia tukar semua kekayaannya menjadi makanan yang bisa dia makan. Tetap tak terpuaskan, dia makan istri dan anak - anaknya. Akhirnya Erisychton tak punya apa - apa lagi yang bisa dimakan selain tubuhnya sendiri. Dia makan dirinya.

"Pada diri monster itu tak ada lagi manusia, dan begitulah. Akhirnya, tak terelakkan lagi. Dia mulai ganyang anggota tubuhnya sendiri, dan sungguh... diakhir pesta besar itu, dia lahap dirinya sendiri" - Carl Jung.

Catatan :
Erisychton adalah simbol puncak dari manusia serakah dan takdirnya itu menunjukkan cara hidup yang tidak berkelanjutan.

Source : on SC

Ovid (Google pics)

Sabtu, 05 September 2015

(cerita) IBU

By Mathilda Soleh

Sewaktu saya menjenguk sahabat saya di RS, tiba tiba hp saya berbunyi dari no yang tidak dikenal. Memang saya tidak suka mengangkat nomor yang tidak dikenal kecuali yang bersangkutan sudah sms saya dulu. Bukan apa - apa sebab seringnya telepon yang ada menawaran berbagai hal. Tetapi karena nomor tak dikenal ini 3x menelpon, akhirnya saya angkat. Ternyata yang menelpon dari toko gorden. Saya bingung karena saya merasa sedang tidak pesan gorden. Lalu telpon beralih ke suara yg sangat saya kenal. Ibu saya. 

Ibu sedang jalan - jalan, dan dia ingat saya di toko gorden. Dia langsung bilang, "Math, ibu nih lagi di toko gorden. Ibu mau belikan buat kamu. Kamu mau warna apa? Bagus bagus deh math. Ga ada warna merah kesukaan kamu, coklat mau? "
Saya tertegun sesaat, dan rasanya ingin menangis. Sudah sebesar ini, tapi ibu masih saja ingat dan memperhatikan saya. Kadang saya malu dan menolak kalau ibu melakukan sesuatu buat saya. Tapi ibu suka marah dan menasehati saya, "Math, selama ibu masih ada dan sehat, ibu selalu akan ada buat kamu dan anak anak ibu yang lain. Ibu cuma doakan supaya kamu dan andi sehat dan langgeng selalu".

Lalu ketika saya menjenguk teman saya yang sakit, saya bertemu dengan ibunya. Ibunya bercerita bahwa beliau sudah 5 hari tinggal dirumah anaknya, menjaga cucu-cucunya ketika anaknya dirawat di RS. Saya tertegun. Seorang ibu dengan banyak anak, namun rasa cintanya tidak pernah berkurang dan beda sekalipun.Seorang ibu tetaplah ibu. Ketika anak anak mereka sakit, hati mereka lebih terasa sakit. Jutaan doa mereka julurkan ke langit demi kebahagiaan dan kesuksesan untuk anaknya.

Jadi kadang saya merasa heran bila ada seorang ibu yang memiliki rasa egois dan kepentingannya sendiri. Apalagi yang jelas tega membiarkan anaknya tersakiti. Mungkin dulu dia belum siap menjadi seorang ibu. Padahal menjadi seorang ibu itu adalah anugerah, karena diluar sana banyak wanita yg begitu merindukan dirinya dipanggil "ibu".

Ada cerita lain mengenai seorang ibu yang mengeluhkan kepada saya akan sikap anaknya yang menjadi atheis. Ibu ini menjadi sedih kenapa anaknya menjadi tidak percaya lagi dengan Tuhan. Jangankan untuk sholat jumat, sholat 5 waktu saja tidak pernah dilakukan.
Lalu saya katakan, "jangan mengeluh sekarang. Karena apa yang terjadi dengan anakmu adalah cerminan diri bagaimana engkau mendidiknya ketika kecil dulu."
Artinya bagaimana seorang anak bisa melakukan sholat dengan sempurna bila kedua orang tuanya tidak pernah mendirikan sholat. Bagaimana seorang anak bisa membaca quran bila kedua orang tua nya tidak pernah mengumandangkan ayat Allah dirumah mereka.

Menjadi seorang ibu yang egois hanya menciptakan anak anak yang egois juga. Tetapi bila menjadikan diri ini sebagai seorang ibu yang penuh dedikasi kepada keluarga, suami dan anak anaknya, akan menciptakan anak anak yang penuh hormat, cinta dan pengabdian pada kedua orang tuanya. 

Note : Wrote on September 5, 2015


Mommy & Daugther (Andi-Math's collection pics)