By Mathilda Soleh
Sewaktu saya menjenguk sahabat saya di RS, tiba tiba hp saya berbunyi dari no yang tidak dikenal. Memang saya tidak suka mengangkat nomor yang tidak dikenal kecuali yang bersangkutan sudah sms saya dulu. Bukan apa - apa sebab seringnya telepon yang ada menawaran berbagai hal. Tetapi karena nomor tak dikenal ini 3x menelpon, akhirnya saya angkat. Ternyata yang menelpon dari toko gorden. Saya bingung karena saya merasa sedang tidak pesan gorden. Lalu telpon beralih ke suara yg sangat saya kenal. Ibu saya.
Ibu sedang jalan - jalan, dan dia ingat saya di toko gorden. Dia langsung bilang, "Math, ibu nih lagi di toko gorden. Ibu mau belikan buat kamu. Kamu mau warna apa? Bagus bagus deh math. Ga ada warna merah kesukaan kamu, coklat mau? "
Saya tertegun sesaat, dan rasanya ingin menangis. Sudah sebesar ini, tapi ibu masih saja ingat dan memperhatikan saya. Kadang saya malu dan menolak kalau ibu melakukan sesuatu buat saya. Tapi ibu suka marah dan menasehati saya, "Math, selama ibu masih ada dan sehat, ibu selalu akan ada buat kamu dan anak anak ibu yang lain. Ibu cuma doakan supaya kamu dan andi sehat dan langgeng selalu".
Lalu ketika saya menjenguk teman saya yang sakit, saya bertemu dengan ibunya. Ibunya bercerita bahwa beliau sudah 5 hari tinggal dirumah anaknya, menjaga cucu-cucunya ketika anaknya dirawat di RS. Saya tertegun. Seorang ibu dengan banyak anak, namun rasa cintanya tidak pernah berkurang dan beda sekalipun.Seorang ibu tetaplah ibu. Ketika anak anak mereka sakit, hati mereka lebih terasa sakit. Jutaan doa mereka julurkan ke langit demi kebahagiaan dan kesuksesan untuk anaknya.
Jadi kadang saya merasa heran bila ada seorang ibu yang memiliki rasa egois dan kepentingannya sendiri. Apalagi yang jelas tega membiarkan anaknya tersakiti. Mungkin dulu dia belum siap menjadi seorang ibu. Padahal menjadi seorang ibu itu adalah anugerah, karena diluar sana banyak wanita yg begitu merindukan dirinya dipanggil "ibu".
Ada cerita lain mengenai seorang ibu yang mengeluhkan kepada saya akan sikap anaknya yang menjadi atheis. Ibu ini menjadi sedih kenapa anaknya menjadi tidak percaya lagi dengan Tuhan. Jangankan untuk sholat jumat, sholat 5 waktu saja tidak pernah dilakukan.
Lalu saya katakan, "jangan mengeluh sekarang. Karena apa yang terjadi dengan anakmu adalah cerminan diri bagaimana engkau mendidiknya ketika kecil dulu."
Artinya bagaimana seorang anak bisa melakukan sholat dengan sempurna bila kedua orang tuanya tidak pernah mendirikan sholat. Bagaimana seorang anak bisa membaca quran bila kedua orang tua nya tidak pernah mengumandangkan ayat Allah dirumah mereka.
Menjadi seorang ibu yang egois hanya menciptakan anak anak yang egois juga. Tetapi bila menjadikan diri ini sebagai seorang ibu yang penuh dedikasi kepada keluarga, suami dan anak anaknya, akan menciptakan anak anak yang penuh hormat, cinta dan pengabdian pada kedua orang tuanya.
Note : Wrote on September 5, 2015
![]() |
| Mommy & Daugther (Andi-Math's collection pics) |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar