By : Danar Zohar dan Ian Marshal
Melalui dongeng - dongeng Ovid dalam mitologi Yunani, kita mendapat pelajaran tentang saudagar kayu yang kaya raya bernama Erisychthoon (baca : Er-is-ya-thon). Erisychton adalah orang rakus yang melulu berpikir tentang keuntungan. Tak ada yang sakral baginya. Namun, di tanah Erisychton terdapat sebuah pohon istimewa yang dicintai para dewa. Doa - doa kaum beriman diikatkan pada cabang - cabangnya yang amat banyak dan ruh - ruh suci menari disekitar batang pohonnya yang indah. Erisychton tak sedikit pun peduli pada keistimewaan ini. Dia melihat pohon itu serta menaksir banyaknya kayu yang bisa dihasilkannya, kemudian dia ambil kapak untuk menebangnya. Melawan semua protes yang dialamatkan kepadanya, dia terus menebang hingga pohon itu pun mengering dan tumbang. Lantas, semua kehidupan ilahiah yang mendiami pohon itu pun menghilang. Namun, salah satu dewa mengutuk Erisychton atas keserakahannya itu. Sejak hari itu, Erisychton didera rasa lapar yang tak pernah ada puasnya. Dia mulai dengan memakan semua persediaan makanannya, kemudian dia tukar semua kekayaannya menjadi makanan yang bisa dia makan. Tetap tak terpuaskan, dia makan istri dan anak - anaknya. Akhirnya Erisychton tak punya apa - apa lagi yang bisa dimakan selain tubuhnya sendiri. Dia makan dirinya.
"Pada diri monster itu tak ada lagi manusia, dan begitulah. Akhirnya, tak terelakkan lagi. Dia mulai ganyang anggota tubuhnya sendiri, dan sungguh... diakhir pesta besar itu, dia lahap dirinya sendiri" - Carl Jung.
Catatan :
Erisychton adalah simbol puncak dari manusia serakah dan takdirnya itu menunjukkan cara hidup yang tidak berkelanjutan.
Source : on SC
Melalui dongeng - dongeng Ovid dalam mitologi Yunani, kita mendapat pelajaran tentang saudagar kayu yang kaya raya bernama Erisychthoon (baca : Er-is-ya-thon). Erisychton adalah orang rakus yang melulu berpikir tentang keuntungan. Tak ada yang sakral baginya. Namun, di tanah Erisychton terdapat sebuah pohon istimewa yang dicintai para dewa. Doa - doa kaum beriman diikatkan pada cabang - cabangnya yang amat banyak dan ruh - ruh suci menari disekitar batang pohonnya yang indah. Erisychton tak sedikit pun peduli pada keistimewaan ini. Dia melihat pohon itu serta menaksir banyaknya kayu yang bisa dihasilkannya, kemudian dia ambil kapak untuk menebangnya. Melawan semua protes yang dialamatkan kepadanya, dia terus menebang hingga pohon itu pun mengering dan tumbang. Lantas, semua kehidupan ilahiah yang mendiami pohon itu pun menghilang. Namun, salah satu dewa mengutuk Erisychton atas keserakahannya itu. Sejak hari itu, Erisychton didera rasa lapar yang tak pernah ada puasnya. Dia mulai dengan memakan semua persediaan makanannya, kemudian dia tukar semua kekayaannya menjadi makanan yang bisa dia makan. Tetap tak terpuaskan, dia makan istri dan anak - anaknya. Akhirnya Erisychton tak punya apa - apa lagi yang bisa dimakan selain tubuhnya sendiri. Dia makan dirinya.
"Pada diri monster itu tak ada lagi manusia, dan begitulah. Akhirnya, tak terelakkan lagi. Dia mulai ganyang anggota tubuhnya sendiri, dan sungguh... diakhir pesta besar itu, dia lahap dirinya sendiri" - Carl Jung.
Catatan :
Source : on SC
![]() |
| Ovid (Google pics) |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar