by : Mathilda Soleh
Saya beruntung, laki - laki pertama yang saya bisa lihat ketika lahir adalah ayahku. Sepanjang masa sebelum menikah, lebih dari separuh waktu saya dihabiskan dengan ayah. Ayah bukan orang yang hangat, justru ia menampilkan dirinya sebagai sosok yang kaku, tegas dan mendidik dengan keras. Ketika balita, ayah melarang saya bermain di luar, tidak pernah diijinkan ayah untuk keluar pagar. Sesekali aku main keluar bersama teman - teman hanya ketika ayah tidak ada di rumah. Ayah bisa menjewer kalau saya ketahuan bermain keluar rumah. Itu dilakukannya karena ia takut saya lecet, jatuh atau kehitaman karena terik matahari. Berangkat sekolah tidak pernah sendiri, selalu ada yang mengantarkan. Ayah melarang karena ia takut saya diculik atau tersesat.
Ayah mengajari saya dengan suara tinggi dan keras pelajaran sekolah. Ayah tidak pernah berkata dengan lembut setiap mengajari pelajaran, terutama bahasa inggris. Saya sering menangis kalau saya salah mengerjakan pelajaran atau salah mengucapin kata - kata dalam bahasa inggris. Kadang ayah akan meledek kalau ada yang salah saya kerjakan. Saya bertanya, "kenapa papa begitu ?" Lalu ia akan menjawab, "karena papa mau, kau terus belajar !". Akhirnya saya tahu, itulah caranya memotivasi saya untuk terus mencoba dan berbuat benar setiap hal yang saya lakukan.
Tiap hari saya mencabut jenggotnya, tepat pukul 9 malam. Ya, ayah tidak pernah dicukur. Ayah tidak suka. Ayah hanya mencabutnya dengan pingset dan itu tugas yang sudah aku jalanin sejak usia 8 tahun plus setiap hari saya juga menginjak - nginjak punggungnya. Diminta berhitung dari 1 - 500 dan tidak boleh berbohong selama berhitung menginjak punggung ayah. 1 putaran dari ujung telapak kaki menuju ke atas hingga sampai lagi ke telapak kaki, itu artinya baru 1 hitungan. Bayangkan saya harus selesai berhitung hingga 500. Ketika saya besar, saya tahu bahwa ternya ayah sangat lelah bekerja dari pukul 5 hingga kadang pukul 10 malam. Jarang di rumah karena waktu mudanya juga sering dihabiskan bepergian ke luar kota. Ayah menjalani double job, sebagai pegawai pemerintah dan juga sebagai dosen. Jadwal ayah yang sangat padat, yang membuatnya sangat letih luar biasa.
Ketika aku sudah mulai dewasa, aku senang belajar musik. Aku les musik diam - diam tanpa ayah tahu. Karena ayah tidak suka saya belajar musik. Ayah senang saya ikut bela diri. Awalnya saya malas, tapi karena dorongan ayah ternyata 5 tahun juga saya jalanin. Setiap pulang latihan, kaki saya suka melepuh karena harus berlari sekian kilometer di atas aspal. Terkadang baru sampai pulang ke rumah hingga pukul 11 malam apalagi kalau sudah turnamen kejuaraan. Mulut sering berdarah karena pukulan. Ibuku kemudian dengan sabar mengobatinya. Aku bertanya kepada ayah, "kenapa aku harus lakukan ini sedangkan kakak perempuan saya tidak dipaksakan papa ?". Ayahku menjawab, "kerjakan saja apa yang papa suruh. Olah raga itu sehat". Dan, akhirnya saya tahu, ayah melakukan itu kepada saya karena ayah tahu bahwa secara fisik saya lebih kuat dari kakak perempuan saya. Ayah ingin mengajarkan saya berjiwa sportif, kuat, dan tidak mudah menyerah dikemudian hari.
Ketika saya mulai masuk bangku kuliah, ayah meminta saya untuk kos. Saya heran karena kakak perempuan saya tidak diijinkan ayah tetapi saya justru sebaliknya. Lagi-lagi dikemudian hari saya tahu karena ayah merasa kuatir bila saya pulang malam sendirian dari depok ke rumah ayah. Jadi ayah berpikir lebih aman bila pulang kuliah malam, saya langsung istirahat ke tempat kos.
Ketika jadwal saya pulang ke rumah setelah 5 hari di kos, tiba - tiba ayah marah. Marah karena ayah tahu diam-diam saya latihan akting. Ya, agensi saya menelpon ke rumah untuk syuting dan apesnya ayah yang mengangkatnya. (jaman itu selular masih harganya puluhan juta, jadi andalannya pasti telepon rumah). 3 x ditawarin akting, semua gagal karena ayah melarang keras. Saya tanya ayah, "kenapa tidak boleh berakting ?". Ayah menjawab, "karena papa tidak suka kau jadi artis kelak. Papa ijinkan kau kos tapi bukan untuk melanggar apa yang papa larang !". Dan, keputusan ayah saat itu Tepat !
Bahkan ayah tidak pernah suka kalau ada kawan laki - laki ke rumah. Muka ayah masam dan selalu meminta ibu untuk cepat - cepat meminta mereka pulang ke rumahnya. Lucunya, hanya ketika suami saya saja ayah tidak pernah menunjukkan muka masam ketika datang ke rumah ayah menemui saya. Ah, mungkin sudah feeling ayah kalau mas andi yang memang akan menjadi jodoh saya. (Saya rasa, suami saya pun juga akan melakukan hal yang sama dengan anak - anak perempuan kami kelak, hehehe. Soalnya ternyata mereka setipe. Hahahaha....)
NAMUN,
Sebenarnya ayah melakukan itu semua karena ayah sangat protektif menjaga saya. Ayah mendidik keras karena ayah ingin saya memiliki banyak wawasan dan tahu banyak hal. Ayah ingin merasa lebih "dekat" dengan saya yang merupakan anak bungsunya. Menjelang dewasa, ayah lebih banyak berdiskusi dengan saya dibandingkan ke 3 kakak saya. Ayah juga lebih banyak mendengarkan apa yang saya katakan daripada 3 kakak saya atau ibu. Bahkan kemudian saya menjadi pribadi yang paling mengerti hati dan mampu "membaca" pikiran ayah.
Itulah ayahku. Ayah tidak selalu kaku dan keras. Ayah lebih sering dia tertawa bersama saya. Ayah selalu mengupaskan mangga buat saya. Saya selalu digendong ayah hingga SMA, dipangku dan memeluk ayah. Setiap sakit, saya selalu tidur dengan ayah dan ajaibnya keesok harinya pasti saya langsung sembuh. Saya katakan pada mas andi saat belum menjadi suami saya bahwa saingan terberatnya hanya ayah saya.
Saya sering berkata pada ibu kalau saya lebih sayang ayah. Lalu ibu cemberut karena cemburu. Tapi saya tahu itu cemburu pura - pura ibu karena memang ibu senang melihat kedekatan saya dan ayah. Dari 4 anak ayah, hanya saya yang paling bisa mengerti hati ayah. Hingga sekarang, kalau aku ke rumah ayah, aku masih mencabut jenggot ayah, mengurut ayah dan bercerita dengan ayah. Sekarang giliran suami saya yang cemburu kalau kami ke rumah ayah, karena sesaat saya tidak memperhatikannya. Hahaha....
Ayah juga yang selalu membela saya dalam keadaan apapun juga, ayah juga yang selalu mengingatkan aku untuk selalu bersabar sesulit apapun keadaan yang saya lalui. Ayah selalu berkata, "kau harus selalu kuat hati. Kau harus bermental baja, karena kau anak kesayangan papa, Mathilda !"
Ayah adalah pahlawan bagi saya, dengan kelebihan dan kekurangan apapun yang dimiliki ayah. Karena manusia tidak ada yang sempurna. Rasa hormat saya terhadap ayah, tidak akan pernah luntur. Itulah yang selalu saya tegaskan ke suami saya, karena tanpa ayah, tidak mungkin saya bisa sebaik seperti ini. Ayahlah yang mendidik saya seumur hidupnya, memberikan saya penghidupan dengan tetesan keringatnya. Rezeki yang saya tahu sekali adalah kehalalan dari setiap peluh kerja kerasnya.....
Saya beruntung, laki - laki pertama yang saya bisa lihat ketika lahir adalah ayahku. Sepanjang masa sebelum menikah, lebih dari separuh waktu saya dihabiskan dengan ayah. Ayah bukan orang yang hangat, justru ia menampilkan dirinya sebagai sosok yang kaku, tegas dan mendidik dengan keras. Ketika balita, ayah melarang saya bermain di luar, tidak pernah diijinkan ayah untuk keluar pagar. Sesekali aku main keluar bersama teman - teman hanya ketika ayah tidak ada di rumah. Ayah bisa menjewer kalau saya ketahuan bermain keluar rumah. Itu dilakukannya karena ia takut saya lecet, jatuh atau kehitaman karena terik matahari. Berangkat sekolah tidak pernah sendiri, selalu ada yang mengantarkan. Ayah melarang karena ia takut saya diculik atau tersesat.
Ayah mengajari saya dengan suara tinggi dan keras pelajaran sekolah. Ayah tidak pernah berkata dengan lembut setiap mengajari pelajaran, terutama bahasa inggris. Saya sering menangis kalau saya salah mengerjakan pelajaran atau salah mengucapin kata - kata dalam bahasa inggris. Kadang ayah akan meledek kalau ada yang salah saya kerjakan. Saya bertanya, "kenapa papa begitu ?" Lalu ia akan menjawab, "karena papa mau, kau terus belajar !". Akhirnya saya tahu, itulah caranya memotivasi saya untuk terus mencoba dan berbuat benar setiap hal yang saya lakukan.
Tiap hari saya mencabut jenggotnya, tepat pukul 9 malam. Ya, ayah tidak pernah dicukur. Ayah tidak suka. Ayah hanya mencabutnya dengan pingset dan itu tugas yang sudah aku jalanin sejak usia 8 tahun plus setiap hari saya juga menginjak - nginjak punggungnya. Diminta berhitung dari 1 - 500 dan tidak boleh berbohong selama berhitung menginjak punggung ayah. 1 putaran dari ujung telapak kaki menuju ke atas hingga sampai lagi ke telapak kaki, itu artinya baru 1 hitungan. Bayangkan saya harus selesai berhitung hingga 500. Ketika saya besar, saya tahu bahwa ternya ayah sangat lelah bekerja dari pukul 5 hingga kadang pukul 10 malam. Jarang di rumah karena waktu mudanya juga sering dihabiskan bepergian ke luar kota. Ayah menjalani double job, sebagai pegawai pemerintah dan juga sebagai dosen. Jadwal ayah yang sangat padat, yang membuatnya sangat letih luar biasa.
Ketika aku sudah mulai dewasa, aku senang belajar musik. Aku les musik diam - diam tanpa ayah tahu. Karena ayah tidak suka saya belajar musik. Ayah senang saya ikut bela diri. Awalnya saya malas, tapi karena dorongan ayah ternyata 5 tahun juga saya jalanin. Setiap pulang latihan, kaki saya suka melepuh karena harus berlari sekian kilometer di atas aspal. Terkadang baru sampai pulang ke rumah hingga pukul 11 malam apalagi kalau sudah turnamen kejuaraan. Mulut sering berdarah karena pukulan. Ibuku kemudian dengan sabar mengobatinya. Aku bertanya kepada ayah, "kenapa aku harus lakukan ini sedangkan kakak perempuan saya tidak dipaksakan papa ?". Ayahku menjawab, "kerjakan saja apa yang papa suruh. Olah raga itu sehat". Dan, akhirnya saya tahu, ayah melakukan itu kepada saya karena ayah tahu bahwa secara fisik saya lebih kuat dari kakak perempuan saya. Ayah ingin mengajarkan saya berjiwa sportif, kuat, dan tidak mudah menyerah dikemudian hari.
Ketika saya mulai masuk bangku kuliah, ayah meminta saya untuk kos. Saya heran karena kakak perempuan saya tidak diijinkan ayah tetapi saya justru sebaliknya. Lagi-lagi dikemudian hari saya tahu karena ayah merasa kuatir bila saya pulang malam sendirian dari depok ke rumah ayah. Jadi ayah berpikir lebih aman bila pulang kuliah malam, saya langsung istirahat ke tempat kos.
Ketika jadwal saya pulang ke rumah setelah 5 hari di kos, tiba - tiba ayah marah. Marah karena ayah tahu diam-diam saya latihan akting. Ya, agensi saya menelpon ke rumah untuk syuting dan apesnya ayah yang mengangkatnya. (jaman itu selular masih harganya puluhan juta, jadi andalannya pasti telepon rumah). 3 x ditawarin akting, semua gagal karena ayah melarang keras. Saya tanya ayah, "kenapa tidak boleh berakting ?". Ayah menjawab, "karena papa tidak suka kau jadi artis kelak. Papa ijinkan kau kos tapi bukan untuk melanggar apa yang papa larang !". Dan, keputusan ayah saat itu Tepat !
Bahkan ayah tidak pernah suka kalau ada kawan laki - laki ke rumah. Muka ayah masam dan selalu meminta ibu untuk cepat - cepat meminta mereka pulang ke rumahnya. Lucunya, hanya ketika suami saya saja ayah tidak pernah menunjukkan muka masam ketika datang ke rumah ayah menemui saya. Ah, mungkin sudah feeling ayah kalau mas andi yang memang akan menjadi jodoh saya. (Saya rasa, suami saya pun juga akan melakukan hal yang sama dengan anak - anak perempuan kami kelak, hehehe. Soalnya ternyata mereka setipe. Hahahaha....)
NAMUN,
Sebenarnya ayah melakukan itu semua karena ayah sangat protektif menjaga saya. Ayah mendidik keras karena ayah ingin saya memiliki banyak wawasan dan tahu banyak hal. Ayah ingin merasa lebih "dekat" dengan saya yang merupakan anak bungsunya. Menjelang dewasa, ayah lebih banyak berdiskusi dengan saya dibandingkan ke 3 kakak saya. Ayah juga lebih banyak mendengarkan apa yang saya katakan daripada 3 kakak saya atau ibu. Bahkan kemudian saya menjadi pribadi yang paling mengerti hati dan mampu "membaca" pikiran ayah.
Itulah ayahku. Ayah tidak selalu kaku dan keras. Ayah lebih sering dia tertawa bersama saya. Ayah selalu mengupaskan mangga buat saya. Saya selalu digendong ayah hingga SMA, dipangku dan memeluk ayah. Setiap sakit, saya selalu tidur dengan ayah dan ajaibnya keesok harinya pasti saya langsung sembuh. Saya katakan pada mas andi saat belum menjadi suami saya bahwa saingan terberatnya hanya ayah saya.
Saya sering berkata pada ibu kalau saya lebih sayang ayah. Lalu ibu cemberut karena cemburu. Tapi saya tahu itu cemburu pura - pura ibu karena memang ibu senang melihat kedekatan saya dan ayah. Dari 4 anak ayah, hanya saya yang paling bisa mengerti hati ayah. Hingga sekarang, kalau aku ke rumah ayah, aku masih mencabut jenggot ayah, mengurut ayah dan bercerita dengan ayah. Sekarang giliran suami saya yang cemburu kalau kami ke rumah ayah, karena sesaat saya tidak memperhatikannya. Hahaha....
Ayah juga yang selalu membela saya dalam keadaan apapun juga, ayah juga yang selalu mengingatkan aku untuk selalu bersabar sesulit apapun keadaan yang saya lalui. Ayah selalu berkata, "kau harus selalu kuat hati. Kau harus bermental baja, karena kau anak kesayangan papa, Mathilda !"
Ayah adalah pahlawan bagi saya, dengan kelebihan dan kekurangan apapun yang dimiliki ayah. Karena manusia tidak ada yang sempurna. Rasa hormat saya terhadap ayah, tidak akan pernah luntur. Itulah yang selalu saya tegaskan ke suami saya, karena tanpa ayah, tidak mungkin saya bisa sebaik seperti ini. Ayahlah yang mendidik saya seumur hidupnya, memberikan saya penghidupan dengan tetesan keringatnya. Rezeki yang saya tahu sekali adalah kehalalan dari setiap peluh kerja kerasnya.....
![]() |
| Palembang, South Sumatera (Andi-Math's collection pics) |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar