by : Mathilda Soleh
Punya anak laki-laki atau anak perempuan itu, masing - masing unik. Butuh penanganan yang tidak sama, kesabaran dengan tingkatan berbeda dan keahlian khusus yang dibutuhkan juga beda. Apalagi ketika mereka sedang berada stage "pencarian jati diri - siapa saya? ". Tidak bisa saat ini sebagai orang tua mendidik secara otoriter seperti jaman dulu atau sebaliknya mendidik. Yang dipahami, rangkul mereka, posisikan diri kita sebagai sahabatnya sehingga anak-anak merasa nyaman untuk terbuka. Kematangan emosi anak-anak kelak yang menjadi tingkat kedewasaan dari perkembangannya, dimana mereka akan belajar bertanggung jawab, mandiri dan berfalsafah hidup yang terintegrasi. Menjadi jiwa yang sosiosentrisme, tidak lagi menjadi jiwa yang egosentrisme . Bersikap otoriatif pada anak-anak, itu sudah yang paling terbaik....
Dalam suatu kasus yang saya temui, ada anak remaja yang justru merasa lebih nyaman tinggal, bercerita dan melakukan aktifitas dengan neneknya dari pada ibu kandungnya sendiri. Yang jadi pertanyaan, ada apa dengan hubungan anak-ibu tersebut ?. Pada kasus lain, saya menemui ada orang tua yang senang sekali sumpah serapah pada anaknya. Ah, miris sekali. Tiba - tiba saya jadi ingat pesan nenek saya, “doakan yang baik - baik untuk anak-anak, karena kelak dialam kubur kita membutuhkan doa mereka. Tumbuhkan jiwa yang baik pada diri anak - anak”. (Good advise, nek. Semoga Allah melapangkan alam kuburmu.)
Kembali pada cerita di atas, seharusnya orang tua adalah tempat pertama kali seorang anak bercerita apalagi ketika anak tersebut sedang dalam masa pubersitasnya. Meski ada pepatah yang mengungkapkan bahwa surga dibawah telapak kaki ibu, namun perlu diingat orang tua pun ada kalanya pernah berbuat salah. Ah, terus terang saya banyak menemukan kasus orang tua yang begitu arogansi terhadap kesalahannya. Apakah suatu aib bila kita mengucapkan maaf kepada anak sendiri ? Bersikap kasar pada anak-anak, hanya “menciptakan” jiwa yang kasar pula pada anak-anak.
Saya juga seorang ibu, merasakan sakit yang luar biasa ketika melahirkan anak-anak saya, belum lagi ditambah perjuangan saya memberikan asi ke semua anak-anak saya. Bekerja dan bersekolah, 2 hal yang saya lakukan juga disamping merawat anak - anak saya. Suami saya pun bekerja amat keras demi mencukupi kebutuhan anak-anak.
Tetapi ketika kita menyadari bahwa anak itu hanyalah titipan Tuhan. Kepercayaan Tuhan terhadap kita untuk membentuk akhlak dan perkembangannya. Rasanya, tidak ada salahnya ketika anak telah meminta maaf kemudian kita sebagai orang tua langsung memaafkan dan memeluknya. Bukan sesuatu yang tercela bila sebagai orang tua meminta maaf dulu pada anak. Sikap kita pun pasti pernah melukai hati mereka. Memiliki anak itu anugerah yang luar biasa. Tidak semua pasangan menikah itu lantas dikaruniakan anak.
Anak-anak juga makhluk sosial, ciptaan Tuhan, yang artinya mereka juga memiliki hati, sanubari, bakat dan keinginan. Terkadang sebagai orang tua, kita terlalu naif merasa paling tahu apa yang terbaik buat mereka. Arogan, memaksakan semua kehendak dan menganggap bahwa semua keinginan anak tak pernah sesuai buat masa depannya. Bahkan terlalu apatis untuk melihat kebutuhan anak yang sesungguhnya. Semua karena ego, merasa paling berhak sebagai orang tua. Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah itu sebenarnya tujuan memiliki anak? Menyalurkan semua keinginan terpendam kita kepada anak-anak tanpa mempedulikan perasaan mereka ?
Jadi, ketika sebelum terlambat menyadari "mengapa saya merasa asing dengan anak saya? , mengapa anak saya terasa jauh dari saya? ". Interopeksi sebagai orang tua, apakah yang telah kita berikan pada anak - anak ? Bagaimana kita mendidik mereka dulu ? Sudah tepatkah apa yang saya tanamkan pada mereka ?
Interopeksi, ini juga yang selalu saya lakukan dan yang saya ingatkan kepada suami saya. Saya suka bertanya pada anak saya yang besar, “Kak, apakah mama pernah menyakiti hati mu ?” atau , “Kak, maaf tadi mama memarahi kamu soalnya (bla bla saya jelaskan)”
Malu ? Oh, tidak tentu saja. Karena dengan begini saya jadi tahu isi hati dan pikiran anak saya. Saya jadi memahami apa yang diinginkannya, dan membuat anak saya belajar memahami apa yang baik dilakukannya dan yang tidak baik. Mendidiknya bahwa segala sesuatu ada rules-nya dan selalu ada sebab akibat di dunia ini.
Jangan pernah merasa karena kita sudah berkorban dengan melahirkan mereka, memberikan kehidupan pada mereka lalu lantas mengabaikan hak - hak mereka sebagai anak. Nauzubillah.... Tetap pada dasarnya setiap anak itu memiliki hak yang tidak bisa dirampas begitu saja, yaitu perhatian, kasih sayang dan kelembutan. Ingat, tidak perlu bersikap (terlalu) otoriter atau (terlalu) permisif. Segala sesuatu yang over, hasil nya pasti mubazir....
Pada hakikatnya, orang tualah yang berdoa siang malam agar diberikan keturunan oleh Allah. Bukan anak-anak itu yang minta dilahirkan. Mereka tidak bisa memilih siapa yang jadi orang tuanya. Mereka hanya pasrah dan iklas atas ketentuan Tuhan ketika masih di alam rahim. Jadi, sayangi mereka, pahami mereka, rangkul mereka. Jangan memaksakan kehendak dan ambisi pribadi pada anak-anak. Coba untuk menjadi sahabat bagi kehidupan mereka....
Happy Life, people....
![]() |
| Father & Dauther (Andi-Math's collection pics) |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar