Laman

Kamis, 01 Oktober 2015

(cognitionis) KERENGKENG MANUSIA MODERN

By Achmad Mubarok

 
Ketidakberdayaan manusia bermain dalam pentas peradaban modern yang terus melaju tanpa dapat dihentikan menyebabkan sebagian besar "manusia modern" terperangkap dalam situasi yang istilah Psikolog Humanis terkenal, Rollo May, disebut sebagai "Manusia dalam Kerengkeng", yakni manusia yang sudah kehilangan makna, manusia kosong, The Hollow Man. Dia resah setiap kali harus mengambil keputusan, ia tidak tahu apa yang diinginkannya, dan tidak mampu memilih jalan hidup yang diinginkannya.

Mereka sangat terikat untuk mengikuti skenario sosial yang menentukan berbagai kriteria dan mengatur berbagai kriteria dan mengatur berbagai keharusan dalam kehidupan sosial.

Mereka merasa sedang berjuang keras untuk memenuhi keinginannya, padahal sebenarnya mereka diperbudak oleh keinginan orang lain, oleh keinginan sosial. Mereka sebenarnya sedang mengejar apa yang diharapkan oleh orang lain agar dia mengejarnya, mengukur perilaku dirinya dengan apa yang dia duga sebagai harapan orang lain.

Begitulah manusia modern, dia sibuk meladeni keinginan orang lain, sampai lupa kehendak sendiri. Dia memiliki ratusan topeng sosial yang siap dipakai dalam berbagai even sesuai dengan skenario sosial dan saking seringnya menggunakan topeng, dia lupa wajah aslinya.

Manusia dalam kerengkeng modern sudah kehilangan jati diri, perilakunya sudah seperti perilaku robot, tanpa perasaan. Senyumnya tidak lagi seindah senyuman fitri, tetapi lebih sebagai make up. Tawanya tidak lagi spontan, tetapi tawa yang diatur sebagai bedak untuk memoleh kepribadiannya. Tangisannya tidak lagi merupakan rintihan jiwa, tetapi lebih merupakan topeng untuk menutupi borok - borok akhlaknya, dan semua sudah diprogramkan kapan harus tertawa dan kapan harus menangis.

Terapi Psikologis untuk "Manusia Modern"

Karena derita manusia modern itu berasal dari kerengkeng yang membelenggunya, jalan keluarnya adalah berusaha keluar dari kerengkeng itu. Kerengkeng yang membelenggung manusia modern sebenarnya berupa nilai atau tepatnya kekosongan nilai. Kekosongan nilai manusia modern itu disebabkan karena ia tidak lagi mengenali dirinya dalam konstalasi mahkluk - Khalik. Dia terpuruk hanya berkutat di pojok makhluk. Oleh karena itu, dunianya menjadi sempit, langitnya menjadi rendah.

Untuk berani keluar dari kerengkengnya, mulai pertama manusia modern harus terlebih dahulu mengenali kembali jati dirinya, apakah mahkluk itu, apa sebenarnya manusia itu, siapa dirinya sebenarnya, untuk apa dia berada di dunia ini dan mau kemana setelah itu.

Ending :
"Merasa cukuplah dari apa yang dimiliki orang lain, maka engkau pasti akan diperlakukan sebagai mitra sejajar...."

Source : Pengantar "Mengatasi Kerentanan Stres Melalui Coping Religius" (Iredho Fani Reza)


Birds @Doha Qatar (Andi-Math's collection pics)



Tidak ada komentar: