Laman

Sabtu, 29 September 2012

(berbagi) BERKOMPROMI DENGAN ALAM

By Mathilda Soleh


Ini adalah hal pertama bagi kami ketika memutuskan merantau dinegeri orang. Yang ada dibenak kami saat membuat keputusan ini adalah kesempatan yang tak datang dua kali dan usia kami yang masih sangat produktif. Qatar, negara pertama yang menjadi pilihan kami. Terlepas di negeri ini sudah ada family yang lebih dahulu menetap di sini.

Ketika kami datang ke negari ini, summer sedang melanda. Suhu udara bisa mencapai 56 derajat diwaktu siang dan 45 derajat diwaktu malam. Biasanya kawan-kawan Indonesia, menggunakan musim ini untuk pulang ke Indonesia, tetapi kami survive dengan iklim ekstrim ini dengan tidak pulang kampung ke tanah air. Memang tidak mudah awalnya. Kami harus berjuang beradaptasi dengan lingkungan asing ini, beradaptasi dengan cuaca yang tidak bersahabat. Saat diluar rumah, kami harus bertahan dengan dust storm-nya.

Berkompromi dengan alam itu memang sulit, apalagi bila menyangkut dengan keadaan disekitar kita. Saat itu, tempat tinggal kami tempati, belum ada internet dan saluran telepon, dan hanya mengandalkan jaringan telepon Indonesia yang saya bawa. Satu bulan pertama yang terasa berat sekali. Homesick, vertigo dan sepi yang terasa berat.

Belajar untuk kompromi itu tidak mudah meski itu harus. Kompromi dengan  diri sendiri, lingkungan dan cuaca. Namun dibalik itu semua, kami selalu percaya, Allah tak akan pernah jauh dari kami.....


Note : wrote on June 4, 2009

Souq Waqif, Doha Qatar (Andi-Math's collection pics)

Tidak ada komentar: